JAKARTA - Membangun fondasi spiritual pada buah hati merupakan perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran dan strategi yang tepat. Dalam ajaran Islam, kewajiban berpuasa memang baru jatuh ketika seorang anak menyentuh usia baligh atau sekitar 15 tahun. Namun, menunggu hingga usia tersebut untuk mulai mengenalkan puasa dianggap kurang ideal dalam membentuk karakter religius.
Pembiasaan sejak dini menjadi kunci agar anak tidak merasa terbebani saat kewajiban itu datang. Melalui pendekatan yang bertahap, orang tua dapat menanamkan kecintaan pada ibadah tanpa mengabaikan kondisi fisik dan psikis anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Usia Ideal Memulai Pendidikan Puasa
Pertanyaan mengenai kapan waktu terbaik untuk mulai melatih anak berpuasa sering menjadi diskusi hangat di kalangan orang tua. Merujuk pada pola pendidikan ibadah lainnya, usia tujuh tahun dipandang sebagai golden age atau masa keemasan untuk memulai perkenalan tersebut.
Dai nasional, Muhammad Assad, memaparkan bahwa pola ini selaras dengan anjuran Rasulullah SAW terkait perintah mendirikan shalat. Jika shalat mulai ditekankan pada usia tujuh tahun, maka logika pendidikan yang sama dapat diterapkan dalam ibadah puasa.
“Nabi mengajarkan, ketika mengajarkan anak tentang sholat, maka di umur tujuh tahun itu sudah mulai diajarkan sholat. Berarti puasa pun diajarkan di umur tujuh tahun,” tutur Assad saat memberikan penjelasan di sela-sela kegiatan dakwahnya di Jakarta, Sabtu.
Metode Latihan Bertahap Sesuai Kapasitas Fisik
Satu hal yang perlu digarisbawahi oleh para orang tua adalah bahwa mengajarkan puasa pada anak usia tujuh tahun tidak berarti memaksa mereka untuk menahan lapar dan haus layaknya orang dewasa. Prinsip utamanya adalah pengenalan dan pembiasaan, bukan pemaksaan hasil akhir.
Assad menyarankan agar orang tua membagi fase latihan dalam rentang waktu beberapa tahun. Anak diberikan ruang untuk menyesuaikan ketahanan fisiknya secara perlahan-lahan. Langkah ini penting agar pengalaman berpuasa pertama bagi anak tidak menjadi memori yang menyakitkan atau traumatis.
“Berarti momen-momen usia 7-10 tahun adalah momen pertama anak diajarkan puasa. Dan nggak harus langsung full sampai Maghrib. Zuhur dulu, Ashar dulu, baru nanti Maghrib dalam tiga tahun,” jelas Assad memaparkan tahapan teknisnya.
Pendekatan Lembut dan Disiplin Edukatif
Dalam mendampingi anak yang sedang belajar, orang tua dianjurkan untuk selalu menggunakan pendekatan yang persuasif dan lembut. Meskipun disiplin mulai diperkenalkan, cara-cara yang digunakan harus tetap berada dalam koridor edukasi yang tidak melukai fisik maupun mental anak.
Fase usia 7 hingga 10 tahun adalah masa di mana anak sangat memperhatikan reaksi orang tuanya. Dukungan moral dan bimbingan yang penuh kasih sayang akan jauh lebih efektif daripada tekanan yang kaku. Jika anak belum mampu konsisten, orang tua sebaiknya memberikan pengertian ketimbang hukuman yang berat.
Pemanfaatan Motivasi Melalui Hadiah
Salah satu cara yang cukup efektif dalam memacu semangat anak adalah dengan memberikan apresiasi atau hadiah. Ada kekhawatiran sebagian orang tua bahwa pemberian hadiah akan memicu sikap pamrih pada anak, namun menurut Assad, hal ini justru merupakan bagian dari pemanfaatan psikologi perkembangan anak yang tepat.
Bagi anak kecil, sebuah apresiasi nyata merupakan bentuk pengakuan atas usaha keras mereka. Hadiah berfungsi sebagai pemantik awal atau stimulan agar mereka merasa senang saat menjalankan ibadah yang berat.
"Dan bagus kalau dikasih hadiah, bukan berarti nanti jadi pamrih, enggak. Karena memang anak kecil itu suka hadiah. Jadi kasih hadiah untuk apa? Motivasi," tegas Assad.
Membangun Kebiasaan hingga Kesadaran Dewasa
Tujuan jangka panjang dari seluruh proses ini bukan sekadar keberhasilan anak menahan lapar hingga waktu maghrib, melainkan tertanamnya nilai-nilai spiritual dalam jiwa mereka. Ketika anak sudah terbiasa dengan suasana dan ritme puasa sejak kecil, mereka akan memiliki kesiapan mental yang jauh lebih matang saat dewasa nanti.
Apresiasi berupa hadiah pada akhirnya akan memudar seiring bertambahnya usia dan kematangan berpikir anak. Namun, rutinitas dan disiplin yang telah dibangun sejak usia tujuh tahun akan menetap sebagai identitas diri yang kuat.
"Tapi setelah dia besar, udah pasti nggak mau hadiahnya. Tapi kebiasaan berpuasanya itu tetap melekat dalam dirinya," pungkas Assad mengakhiri penjelasannya.
Melalui sinergi antara keteladanan orang tua, metode yang bertahap, serta motivasi yang tepat, ibadah puasa diharapkan tidak lagi menjadi beban bagi anak, melainkan menjadi kebutuhan spiritual yang dijalankan dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan saat mereka mencapai usia baligh.