Strategi Pemkab Kutai Barat Perkuat Ekonomi Petani Melalui Tanaman Hortikultura Cepat Panen

Minggu, 15 Februari 2026 | 09:41:00 WIB
Strategi Pemkab Kutai Barat Perkuat Ekonomi Petani Melalui Tanaman Hortikultura Cepat Panen

JAKARTA - Kemandirian ekonomi di tingkat keluarga menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dalam upaya menekan angka kemiskinan. Melalui kolaborasi strategis dengan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, pemerintah daerah kini mengarahkan para petani lokal untuk tidak lagi hanya terpaku pada sektor tambang atau tanaman keras, melainkan mulai melirik diversifikasi lahan dengan tanaman hortikultura yang memiliki masa panen singkat.

Langkah ini dipandang sebagai solusi konkret untuk menciptakan stabilitas arus kas (cash flow) harian bagi masyarakat agraris di Bumi Tanaa Purai Ngeriman. Dengan memperpendek siklus produksi, diharapkan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga tani dapat lebih terjaga dari kerentanan finansial.

Transformasi Pola Tanam untuk Arus Kas Harian

Ketergantungan yang tinggi pada komoditas perkebunan jangka panjang seperti sawit atau sektor ekstraktif pertambangan sering kali menempatkan petani dalam posisi sulit. Pasalnya, model pendapatan dari sektor-sektor tersebut bersifat musiman atau memerlukan waktu tunggu yang sangat lama sebelum menghasilkan uang tunai.

Analis Sumber Daya Manusia BSKDN Kemendagri, Ira Hayatunisma, mengidentifikasi bahwa salah satu akar masalah kemiskinan di wilayah yang kaya akan sumber daya alam justru terletak pada absennya pemasukan rutin harian. Tanaman "cepat panen" seperti cabai dan aneka sayuran diposisikan sebagai pilar jangka pendek untuk menutup celah tersebut.

"Pilih potensi yang paling gampang dan cepat panennya. Kalau sayur dan cabai, sirkulasinya cepat. Strategi ini diharapkan mampu memberikan arus kas harian bagi petani sehingga kebutuhan dapur tetap terjaga setiap harinya," ungkap Ira saat memberikan arahan dalam forum FGD Strategi Penguatan SDM di Sendawar, Kamis.

Sinergi Lokal dengan Program Makan Bergizi Gratis

Kebijakan diversifikasi ini tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah diminta untuk jeli melihat peluang pasar dari program nasional, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan adanya kebutuhan besar akan bahan baku pangan bergizi secara rutin, petani lokal memiliki kesempatan emas untuk menjadi pemasok utama di daerahnya sendiri.

Ira Hayatunisma menekankan pentingnya peran dinas terkait dalam memutus rantai pasok dari luar daerah yang selama ini sering mendominasi pasar lokal. Ia menegaskan bahwa swasembada pangan di tingkat kabupaten harus dimulai dari keberpihakan terhadap produk hasil keringat masyarakat setempat.

"Jangan sampai suplainya mengambil dari luar daerah. Dinas terkait harus mengarahkan produk masyarakat agar terserap oleh pasar lokal sendiri. Jika ini berjalan, petani tidak akan berhenti berproduksi karena permintaannya terus ada," jelasnya lebih lanjut.

Modernisasi Pertanian untuk Menarik Minat Milenial

Selain mengubah jenis komoditas yang ditanam, pemerintah juga menyadari adanya tantangan regenerasi petani. Untuk itu, adopsi teknologi pertanian modern mulai diperkenalkan sebagai daya tarik bagi generasi muda sekaligus upaya meningkatkan efisiensi kerja.

Pemanfaatan teknologi robotik seperti drone untuk penyemprotan air dan pemupukan serta penyebaran benih menjadi salah satu poin krusial yang diusulkan. Penggunaan teknologi ini diyakini mampu menekan biaya produksi yang selama ini menjadi keluhan utama petani, sembari meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan.

Edukasi Dini Melalui Program Ketahanan Pangan Sekolah

Upaya mengubah pola pikir tidak hanya berhenti di tingkat petani dewasa. Melalui program Ketahanan Pangan (Ketapang), sektor pendidikan juga dilibatkan secara aktif. Siswa di sekolah-sekolah di Kutai Barat kini didorong untuk memahami literasi pertanian dengan memanfaatkan lahan sekolah sebagai kebun sayur mandiri.

Program ini memiliki manfaat ganda: pertama, memberikan edukasi praktis mengenai cara bercocok tanam sejak dini; kedua, hasil panen dari kebun sekolah tersebut dapat langsung dikonsumsi oleh para siswa. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan status gizi anak sekolah sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap profesi petani.

Komitmen Dinas Pertanian dalam Penyaluran Saprodi

Merespons arahan strategis tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, menyatakan dukungan penuh. Pihaknya mengaku telah memetakan kebutuhan mendasar petani untuk menjalankan transisi menuju hortikultura ini dalam kurun waktu 0 hingga 9 bulan ke depan.

Dinas Pertanian berkomitmen untuk memfasilitasi petani melalui penyediaan Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) yang lebih tertata. Hal ini mencakup ketersediaan bibit unggul yang cocok dengan kondisi tanah lokal, pupuk yang memadai, hingga bantuan herbisida untuk pemeliharaan tanaman.

"Kami ingin petani kita berdaya melalui penguatan di sektor hortikultura. Ini adalah kunci agar ketahanan ekonomi keluarga tidak rapuh," tutur Stepanus dengan optimis.

Membangun Kampung Pangan yang Mandiri

Salah satu wujud nyata dari strategi ini sudah mulai terlihat di Kampung Linggang Purwodadi, Kecamatan Linggang Bigung. Wilayah ini dipersiapkan menjadi "Kampung Pangan" percontohan di Kutai Barat. Di sana, warga mulai aktif mengelola bibit tanaman sayuran dan kolam ikan secara terpadu.

Dengan adanya kampung percontohan seperti ini, pemerintah berharap muncul efek domino ke kampung-kampung lain di 16 kecamatan yang ada di Kutai Barat. Jika setiap desa mampu menghasilkan komoditas hortikultura sendiri, maka ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar provinsi atau kabupaten tetangga dapat diminimalisir secara bertahap.

Optimalisasi Forum Strategi Penguatan SDM

Pertemuan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Aula ATJ Kantor Pemkab Kutai Barat tersebut menjadi saksi kolaborasi antarlini. Berbagai perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), mulai dari Bappeda, Dinas Pertanian, hingga Disnaker, duduk bersama merumuskan langkah taktis dalam kelompok-kelompok kerja.

Fokus utamanya tetap satu: bagaimana kekayaan sumber daya alam Kutai Barat yang tercermin dalam PDRB tinggi bisa selaras dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Paradoks ekonomi di mana daerah kaya namun angka kemiskinan masih ada, coba diurai melalui pemberdayaan sektor pertanian akar rumput yang lebih lincah dan adaptif terhadap kebutuhan pasar harian.

Melalui pergeseran paradigma dari tanaman keras ke tanaman cepat panen, Kutai Barat optimis dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh. Petani tidak lagi hanya menjadi penonton di tengah potensi daerahnya yang melimpah, melainkan menjadi aktor utama yang merasakan langsung perputaran ekonomi setiap harinya.

Terkini