Urutan Berbuka Puasa yang Benar Menurut Rekomendasi Medis

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:50:19 WIB
Urutan Berbuka Puasa yang Benar Menurut Rekomendasi Medis

JAKARTA - Ketika azan Magrib berkumandang, tubuh manusia yang telah melewati fase istirahat pencernaan selama belasan jam berada dalam kondisi kritis akan cairan dan glukosa darah. Di saat inilah, muncul dilema klasik di meja makan: haruskah kita memprioritaskan asupan cairan atau langsung mengisi perut dengan makanan padat? Meskipun terlihat sederhana, urutan antara minum dan makan saat berbuka memiliki dampak signifikan terhadap kinerja metabolisme dan kesiapan lambung dalam menerima beban nutrisi setelah seharian kosong.

Para ahli kesehatan memandang urutan berbuka bukan sekadar soal selera atau kebiasaan, melainkan tentang bagaimana memberikan "sinyal" yang tepat bagi sistem pencernaan. Transisi yang lembut dan bertahap sangat disarankan untuk menghindari syok pada lambung serta memastikan penyerapan energi terjadi secara optimal tanpa menimbulkan gangguan kesehatan pasca-berbuka.

Pentingnya Restorasi Cairan dan Energi Bertahap

Urutan berbuka yang ideal dimulai dari zat yang paling mudah dan cepat diolah oleh tubuh. Menurut dr. Widya Eka Nugraha, MSiMed, dosen Fakultas Kedokteran IPB University, tubuh yang berpuasa selama belasan jam kehilangan energi dan cairan. Ia menjelaskan bahwa berbuka puasa sebaiknya dimulai dengan minuman dan makanan yang cepat diserap tubuh, seperti kurma dan air putih, untuk mengembalikan cairan dan energi secara bertahap sebelum mengonsumsi makanan berat.

Langkah ini dianggap krusial agar sistem pencernaan tidak kaget setelah lama beristirahat tanpa asupan apa pun. Kurma, sebagai sumber karbohidrat sederhana, berperan sebagai pengungkit kadar gula darah yang menurun drastis selama puasa. dr. Widya juga menekankan bahwa jumlah kurma yang direkomendasikan saat buka puasa adalah sekitar 3–7 butir. Energi dari kurma yang cepat dilepaskan membantu menormalkan gula darah yang turun selama puasa tanpa memberi beban berlebih pada lambung.

Air Putih sebagai Prioritas Utama Menghalau Dehidrasi

Selain pemenuhan energi, pemulihan status hidrasi menjadi poin yang tidak kalah vital. Pandangan ini diperkuat oleh pakar nutrisi internasional, Nazima Qureshi, co-author buku The Healthy Ramadan Guide. Menurutnya, air putih tetap prioritas utama saat berbuka, karena tubuh perlu segera mengganti cairan yang hilang.

Ia menjelaskan dalam tulisan yang dimuat di wawancara media kesehatan internasional bahwa cukup minum sebelum makan juga membantu proses pencernaan makanan berat nantinya. Dengan kondisi tubuh yang terhidrasi dengan baik, enzim-enzim pencernaan dapat bekerja lebih efektif saat makanan berat masuk ke dalam sistem. Hal ini sejalan dengan peringatan dari Dr. Lama Nazzal, spesialis penyakit ginjal di Grossman School of Medicine, New York University. Beliau mengingatkan bahwa minum air setelah buka puasa membantu kesehatan ginjal dan mencegah dehidrasi, khususnya jika puasa berlangsung lama dan di cuaca panas.

Menghindari Beban Kerja Berat pada Lambung

Selain masalah urutan, jenis makanan yang dipilih untuk mendampingi minuman saat berbuka juga menentukan kenyamanan perut sepanjang malam. Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), melalui dr. Ida Gunawan, memberikan peringatan mengenai jenis makanan tertentu. Ia menyarankan agar menjauhi makanan yang berminyak dan tinggi lemak saat berbuka.

Alasannya cukup mendasar: makanan jenis ini justru membuat tubuh terasa berat dan meningkatkan rasa haus setelahnya. Transisi yang terlalu ekstrem dari perut kosong ke makanan berminyak dapat memicu gangguan pencernaan dan rasa tidak nyaman. Ia menjelaskan bahwa minum air dahulu jauh lebih “ramah” bagi tubuh yang telah lama berpuasa.

Memberi Jeda bagi Kesiapan Usus dan Lambung

Sinergi antara hidrasi awal dan pemberian jeda waktu sebelum makan besar merupakan kunci dari berbuka yang sehat. Hal senada juga diungkapkan oleh ahli gizi yang dimuat dalam riset kesehatan Ramadan internasional: mengonsumsi cairan lebih dahulu dan memberi jeda sejenak sebelum makan berat memberi kesempatan bagi usus dan lambung untuk kembali aktif tanpa tekanan berlebih.

Secara keseluruhan, konsensus para ahli kesehatan menunjukkan bahwa memulai dengan minum dan takjil ringan seperti kurma adalah metode yang paling bijak. Cara ini terbukti efektif dalam menjaga cairan tubuh, meminimalkan risiko gangguan pencernaan seperti kembung atau kram lambung, serta memastikan tubuh mendapatkan pasokan energi secara bertahap namun pasti. Dengan mengikuti ritme biologis tubuh, momen berbuka tidak hanya memberikan kenikmatan rasa, tetapi juga mendukung kebugaran selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Terkini